FOKUS

OTHER LANGUAGE

UPDATE BY EMAIL

SIAPA KAMI

Redaksi Kokemi (Korban Kejahatan Militer dan Korporasi) adalah sebuah Projek Investigasi bersama, Solidaritas tanpa batas dan usaha pengarsipan data kejahatan Militer dan Korporasi. Selain itu, Page ini kami inisiasi sebagai usaha interupsi atas kebringasan media maistream yang senatiasa tetap aktif mereposisi amarah menjadi sesuatu yang justru dikotomik.

Anda dapat berkontribusi di Page ini.
Kontribusi dapat berupa Opini | Artikel | Komunike | Laporan | Rilis | Foto | Video atau segala bentuk material kampanye yang dapat mendukung Perjuangan Pembebasan melawan Tirani dan Otoritas

Kiriman dialamatkan Pada redaksi kami:
Email : redaksikokemi @ gmail.com
Facebook Page : Redaksi Kokemi

Polisi Membunuh Lagi, 1 orang warga Kupang ditembak

Kebrutalan Polisi nampaknya Kian hari semakin mengukuhkan kesimpulan kita, bahwa Negara melalui alatnya berfungsi untuk melindungi kepentingan Modal  dan melenyapkan semua kontradiksi yang berhadap-hadapan secara langsung dengannya (Negara).  


Kemarin di Kelurahan Naikoten I Kupang telah terjadi Penembakan lagi, kali ini yang menjadi sasaran kebrutalan peluru Polisi adalah Warga Naikoten 1 Kupang Nusa Tenggara Timur.  

Hingga berita ini kami turunkan, kondisi warga yang menjadi sasaran kebiadaban Polisi Buru sergap (Buser) tersebut masih belum kami ketahui. 

Beberapa media mainstream yang merilis kasus ini menyebutkan bahwa, Pihak Polisi hanya akan memberikan sangsi berupa Penundaan kenaikan pangkat terhadap Polisi pelaku penembakan tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas, Kompol. Antonia Pah, pada Senin (23/1/2012) ia menuturkan “tindakan yang diambil yakni tindakan disiplin berupa penundaan kenaikan pangkat dan tidak diberi kesempatan melanjutkan pendidikan atau ijin belajar”. Tambahnya dengan nada sederhana.  

Hal ini jelas-jelas menyerang kita, Polisi bukanlah Oknum, melainkan institusi yang dioperasikan oleh satu kekuatan sentralis bernama Negara dan didukung oleh beberapa sekutunya, Politisi dan Korporasi.   

Jadi adalah sebuah kewajaran, jika dimana-mana warga yang marah sudah memilih aksi langsung dan menolak semua cara-cara kompromis yang membosankan, selain tak signifikan, Para Politisi juga memang agak bebal untuk diajak bicara. 

dapatdibacadisini : klik sumber

Leave a Reply