FOKUS

OTHER LANGUAGE

UPDATE BY EMAIL

SIAPA KAMI

Redaksi Kokemi (Korban Kejahatan Militer dan Korporasi) adalah sebuah Projek Investigasi bersama, Solidaritas tanpa batas dan usaha pengarsipan data kejahatan Militer dan Korporasi. Selain itu, Page ini kami inisiasi sebagai usaha interupsi atas kebringasan media maistream yang senatiasa tetap aktif mereposisi amarah menjadi sesuatu yang justru dikotomik.

Anda dapat berkontribusi di Page ini.
Kontribusi dapat berupa Opini | Artikel | Komunike | Laporan | Rilis | Foto | Video atau segala bentuk material kampanye yang dapat mendukung Perjuangan Pembebasan melawan Tirani dan Otoritas

Kiriman dialamatkan Pada redaksi kami:
Email : redaksikokemi @ gmail.com
Facebook Page : Redaksi Kokemi

Tak ada bos yang baik! "karena Gaji Tak Dibayar, buruh Bunuh Majikan"

Selasa, 12 Februari 2013: Dua hari setelah menusukkan pisau ke perut bosnya, Dik alias Kiki (21), pemuda asal Cidaun, Cianjur ini blak-blakan kepada wartawan saat menghabisi nyawa bosnya, Ali.

Saat itu Minggu (10/2) pagi sekitar pukul 05.30, Kiki sedang di dapur. Dia kesel kepada Ali, bosnya. Karena selain kerap dimarahi, Kiki pun merasa “didzolimi” oleh bosnya. Uang gajinya sebulan, Rp 250.000 belum juga dibayar korban.


Sebelumnya diberitakan , Kiki bersama Dani --pegawai di restoran dan penginapan milik Ali-- sempat didamprat karena lupa mengunci kamar penginapan. Mereka pun diusir. Usai dimarahi, mereka pun pamit ingin keluar. Namun, sempat ditahan-tahan Ali. Apalagi, saat itu sudah malam.

Pengakuan Kiki, Senin (11/2), dia sudah nagih ke majikannya itu sejak Sabtu (9/2) malam. Tetap tidak juga diberikan. Saat itu dendam bercampur dengan amarah. Saat di dapur, Kiki teringat akan sikap sang majikan. Terlintas, dia akan menagih lagi ke Ali, kalau marah dan tak lagi membayar Rp 250.000, dia akan menghabisi sang majikan dengan pisau dapur.

Strategi pun dirancangnya. Dia menagih ke sang bos sambil membawa pisau. Memang pisau dapur stanlis itu tidak ditentengnya. Senjata tajam itu disimpang di balik tangan kanan. “Saya sengaja pegang pisaunya ditilep di balik tangan agar tidak kelihatan,” papar Kiki.

Pagi itu, dia pun mengetuk pintu kamar tempat Ali menginap di No 1. Saat pintu dibuka korban, Kiki tidak masuk. Dia masih di luar. Pintu saat itu terbuka setengah. Dia pun menagih gaji, namun tetap tidak diber juga. Malah, Ali, kata dia, mengusirnya. Dia yang sudah marah sejak awal lantas  menusukan pisau ke tengah perut korban. Dia hanya sekali menusuk perut korban, namun dikoyak-koyak. Lalu dia mencabut pisau tersebut. Darah segar pun keluar dari lubang bekas pisau.

Setelah pisau dicabut, Ali memukul Kiki menggunakan guci ke arah muka, Namun dia hanya kena sedikit. Karena takut Ali berteriak, Kiki pun membekap mulut korban dengan tangan. ”Saat dibekap ternyata, (Ali) malah gigit saya, lantas korban kabur keluar,” papar Diki.

Setelah itu, Kiki tidak langsung keluar, namun masuk ke kamar hotel (tempat Ali menginap). Dia  langsung membawa tas hitam selendang milik korban.
Dia tidak tahu isi di dalam tas tersebut. Pikirannya, jika ada uang, maka uang tersebut akan dipakai ongkos kabur.

“Saya keluar dari penginepan tidak jauh dari sana, saya keburu ketangkap warga di sana saya juga pasrah menyerahkan diri,” terangnya.

Dia pun kemudian dibawa warga ke Mapolsek Pangandaran. Sedangka korban dilarikan ke Puskesmas Pangandaran menggunakan becak oleh warga. Diberitakan Radar dalam edisi Pemilik Restoran Ditusuk Karyawan (11/2), Ali menghembuskan nafas terakhir di IGD Puskesmas Pangandaran.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Ciamis AKP Shohet SH, MH mengatakan isi dari tas korban yaitu satu hape Samsung dan uang receh Rp 100 senilai Rp 50 ribu. 
Adapun dari kamar Ali ditemukan, pisau dapur, jam tangan, guci yang pecah, obat Bodrek tiga butir dan dua butir obat sakit perut .

Sementara itu saat ditanyakan alasan Kiki tidak betah bekerja dengan Ali, karena dia dobel bekerja. Dia harus mengurusi penginapan dan restoran. Sedangkan gajinya hanya Rp 250.000. ”Jelas kesal,” ujarnya yang mendapatkan pekerjaan itu dari temannya di Garut, Brama (20).

Brama menawarkan pekerjaan di Pangandaran. Dia mengiranya enak, namun ternyata malahan tidak betah dan sakit hati. “Makanya saya putuskan pulang, faktor menusuk karena kesal, tapi setelah tahu mati saya menyesal juga akhirnya,” papar pria kurus ini.

Apakah ada orang loin yang membantu merencanakan saat dia menusuk Ali" Dia mengatakan tidak ada. “Saya menusuk korban murni sendiri direncanakan. Tidak ada sangkut paut dengan yang lain,” aku pria yang kepincut lagi menjadi buruh bangunan, pekerjaan sebelumnya yang bergaji Rp 70.000 per hari itu

Leave a Reply