FOKUS

OTHER LANGUAGE

SIAPA KAMI

Redaksi Kokemi (Korban Kejahatan Militer dan Korporasi) adalah sebuah Projek Investigasi bersama, Solidaritas tanpa batas dan usaha pengarsipan data kejahatan Militer dan Korporasi. Selain itu, Page ini kami inisiasi sebagai usaha interupsi atas kebringasan media maistream yang senatiasa tetap aktif mereposisi amarah menjadi sesuatu yang justru dikotomik.

Anda dapat berkontribusi di Page ini.
Kontribusi dapat berupa Opini | Artikel | Komunike | Laporan | Rilis | Foto | Video atau segala bentuk material kampanye yang dapat mendukung Perjuangan Pembebasan melawan Tirani dan Otoritas

Kiriman dialamatkan Pada redaksi kami:
Email : redaksikokemi @ gmail.com
Facebook Page : Redaksi Kokemi

Vandalisme masih menjadi pilihan tepat bagi warga yang marah terhadap brutalitas polisi





Sebuah peningkatan yang sangat tajam sedang terjadi saat ini, dalam serangan terhadap kantor polisi dan fasilitas negara beberapa tahun terakhir adalah indikasi dan wujud ketidakpuasan dan wujud ketidakbutuhan publik terhadap penegak hukum yang sedang berlangsung saat ini.


Indonesian Police Watch (IPW) sendiri mencatat kurang lebih sekitar 65 kantor polisi dan fasilitas negara dibakar atau dirusak oleh masyarakat yang marah pada tahun 2009, setelah itu naik lagi menjadi 20 insiden pada tahun 2010.



Di Batam kepulauan Riau sendiri, kita menyaksikan sejumlah kasus vandalisme yang sangat membuat kita tergelitik dan ingin merespon tindakan serupa, bagaimana tidak 18 fasilitas polisi dibakar hanya dalam satu tahun saja, (Lapooran IPW).

“Delapan belas kantor polisi dan 11 kendaraan polisi di Batam dibakar selama protes buruh pada bulan November," kata Neta (Ketua IPW)

Selain itu lebih dari 10.000 pekerja berbaris di kota Batam pada 24 November untuk menuntut kenaikan upah. Protes ini kemudian berubah menjadi sarana balas dendam saat mereka berjalan melalui zona industri dan dilaporkan mulai membakar mobil dan menghancurkan jendela.


Berdasarkan laporan IPW sendiri, di Indonesia terhitung ada 48 kantor polisi, 12 kendaraan dan lima rumah dirusak tahun lalu. IPW menengarai sejumlah insiden ini akibat represi brutal aparat terhadap Warga masyarakat.

Sebagai contoh, beberapa kantor polisi dan fasilitas di Bima Nusa Tenggara Barat bulan lalu dirusak oleh warga, sebagai protes warga terhadap pembukaan tambang secara paksa oleh korporasi yang didukung Militer.

Selain itu, dua bentrokan terpisah pecah di Ambon Maluku, dan di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada bulan November dan Desember setelah kematian seorang warga sipil, kejadian ini diduga disebabkan oleh polisi," kata laporan pengawas itu ditempat kejadian.

Dany Polanunu, 17, meninggal setelah polisi lalu lintas di Ambon dilaporkan memukulinya, sementara Arnaldus Hapong, 40, meninggal ketika polisi distrik Lembor diduga menyiksanya setelah menangkapnya.

Kapolri perlu mengingatkan anak buahnya atas semua kejadian ini, sehingga mereka tidak bertindak arogan atau represif lagi, tetapi konsisten dalam menjalankan tugas mereka sebagai polisi profesional dan proporsional, yakni menjadi petugas yang melindungi rakyatnya," kata Neta tegas. Ditambahkannya pula bahwa "jika tidak dilakukan, orang bisa lebih putus asa dan melakukan perlawanan kepada polisi ke tingkat yang lebih dahsyat." tegasnya.

Leave a Reply