FOKUS

OTHER LANGUAGE

UPDATE BY EMAIL

SIAPA KAMI

Redaksi Kokemi (Korban Kejahatan Militer dan Korporasi) adalah sebuah Projek Investigasi bersama, Solidaritas tanpa batas dan usaha pengarsipan data kejahatan Militer dan Korporasi. Selain itu, Page ini kami inisiasi sebagai usaha interupsi atas kebringasan media maistream yang senatiasa tetap aktif mereposisi amarah menjadi sesuatu yang justru dikotomik.

Anda dapat berkontribusi di Page ini.
Kontribusi dapat berupa Opini | Artikel | Komunike | Laporan | Rilis | Foto | Video atau segala bentuk material kampanye yang dapat mendukung Perjuangan Pembebasan melawan Tirani dan Otoritas

Kiriman dialamatkan Pada redaksi kami:
Email : redaksikokemi @ gmail.com
Facebook Page : Redaksi Kokemi

Fakta penangkapan yang licik terhadap demonstran pada aksi penolakan kenaikan BBM di Makassar


Setelah aksi pembagian Gas Elpiji gratis dan pembagian bensin gratis didepan gerbang kampus Unhas-Makassar beberapa hari yang lalu serta beberapa aksi beruntun pada hari itu oleh pemrotes kepada pengguna jalan pihak kepolisian melakukan penangkapan yang licik terhadap orang-orang yang dicurigai terlibat dalam aksi itu.

Beberapa data yang dikumpulkan oleh Tim Redaksi Kokemi dari media-media cetak dan online serta fakta-fakta dilapangan menunjukan beberapa kasus penangkapan hingga penculikan orang-orang yang dilakukan oleh pihak kepolisian begitu licik dan keji.

Berikut beberapa penangkapan beruntun pada hari aksi tersebut.


Dalam aksi pembagian gas elpiji dan bensin gratis tersebut disebutkan oleh saksi bahwa seorang mahasiswa bernama Nur Hidayat mahasiswa tahun 2011 fakultas ekonomi Unhas diciduk langsung ditempat ketika sedang melintas ditempat terjadinya aksi ketika aksi sudah reda, padahal sepengakuan teman-temannya dia tidak mungkin ikut dalam aksi serupa karena kondisi fisiknya.

Disebutkan juga seorang mahasiswi Fakultas ekonomi Unhas tahun 2006 bernama wiwin ditangkap ditempat kejadian, saat itu wiwin sedang berteduh di Pom bensin didekat tempat berlangsungnya aksi karena hujan yang begitu deras. Menurut saksi dan teman-teman wiwin, wiwin ditangkap paksa ditempat kejadian hanya untuk menjebak temannya yang lain yang diduga sebagai salah satu peserta aksi tersebut. Dijelaskan oleh teman-temannya bahwa wiwin dipaksa menelpon oleh pihak kepolisian ke nomor ponsel salah satu demonstran yang dimaksud tadi untuk menjemputnya karena malam sudah larut ditempat yang ditentukan oleh pihak kepolisian yaitu di rumah makan Mie Titti namun tanpa sepengetahuan oleh orang yang dimaksud (menjebak), namun naasnya Yasir seorang Mahasiswa Fakultas ekonomi Unhas tahun 2009 mengangkat panggilan tersebut dan ikut dalam permainan polisi, dia berangkat ketempat yang tentukan dan setelah sampai di tempat tersebut korban pun diciduk dan sampai sekarang masih berada ditahan Polda. Menurut teman-temannya Yasir tidak ikut dalam aksi tersebut, dari pagi hingga waktu tertangkapnya Yasir sedang ada di Gedung fakultasnya dan sedang melaksanakan Musyawarah Besar (mubes) HMJ jurusannya.

Juga diketahui tiga orang anak jalanan yang juga ada dilokasi aksi tersebut diambil secara paksa. Tiga anak jalanan tersebut masih dibawah umur dan saksi menyebutkan bahwa pada saat terjadi aksi tiga anak itu hanya sedang berteduh karena hujan dan dari kesehariannya tiga anak itu memang sering mengamen di lampu merah dekat lokasi aksi. Dan seorang lagi teman mereka bernama Zainal umur 18 tahun yang datang ke Polda bermaksud untuk membebaskan ketiga temannya itu pun kemudian ditangkap langsung oleh polisi dan sampai berita ini diturunkan korban masih berada di tahanan Polda. Yang lebih kejinya pihak polisi memaksa Zainal mengakui bahwa dia juga ikut dalam aksi tersebut dan dialah yang membagikan gas tersebut sesuai yang direkam dalam video pihak kepolisian. Padahal menurut saksi yang dapat dipercaya bahwa dalam video tersebut yang juga sudah disiarkan dibeberapa media online dan elektronik si korban tidak ikut terlibat dan tidak ada dalam video tersebut.

Dalam aksi tersebut juga, menurut warga disekitar lokasi aksi ada begitu banyak orang yang tidak mereka kenal berbondong-bondong datang dan hanya memarkirkan motornya untuk segera bergabung dalam barisan polisi dan melakukan pelemparan-pelemparan kepada demonstran. Padahal warga disekitar lokasi mengakui bahwa mereka tidak mungkin ikut membantu polisi untuk melempar kearah mahasiswa yang hampir semuanya mereka kenal. Bahkan ada seorang bapak yang nyeletuk kalau dia senang akhirnya ada “wisata kota” gratis.
Tapi bukan hanya pada aksi pembagian bensin dan gas elpiji gratis tersebut terjadi penangkapan yang keji dan licik. Juga pada aksi bentrokan di Flyover, pengepukan demonstran di kampus Unismuh, UNM, UIT dan kampus UVRI dan hampir disetiap aksi setelahnya. Sampai berita ini diturunkan menurut beberapa saksi pihak kepolisian masih melakukan penyisiran hingga kedalam kampus, penggrebekan langsung kerumah-rumah yang diduga ikut melakukan aksi protes. Bukan hanya mahasiswa, beberapa warga yang ikut terlibat dalam aksi protes di Flyover sehari ditetapkannya BBM dinaikkan atau tidak pun ditangkap dan dijadikan sandera agar mahasiswa-mahasiswa didaerah tersebut datang langsung kepihak kepolisian. Bukan hanya itu, teror dan penculikan menghantui pemrotes-pemrotes ini.

Selain itu, pihak kepolisian melakukan mobilisasi preman-preman dalam beberapa aksi dalam seminggu ini. Intel dan polisi tak berseragam menurut saksi-saksi dan dari pantauan kami setiap malamnya melakukan “ronda malam” dititik-titik rawan. Penjagaan Pom bensin, supermarket, rumah makan siap saji, perusahaan-perusahaan milik korporat besar dan gerbang semua kampus begitu ketat, dari pantauan kami setiap titik sekitar sepuluh orang polisi dan TNI yang berjaga.

Media mainstream pun sebagai pendukung kekuatan modal dan kekuasaan hanya membuat pemrotes-pemrotes ini semakin terteror. Pemberitaan-pemberitaan yang sangat jauh dari fakta dilapangan serta redaksi kata yang dilontarkan hampir semua pemberitaan sangat menyakitkan. Bagaimana tidak, televisi diwarnai oleh berita “demonstran Vs Warga” atau “aksi brutal demonstran penolak kenaikan BBM”, padahal dari data yang kami kumpulkan diatas disebutkan bahwa tidak ada satupun warga yang ikut membantu pihak polisi dalam memerangi orang-orang yang sedang protes ini. Malahan dari data dilapangan langsung dibeberapa titik aksi selalu saja ada warga yang menyuplai minuman dan makanan kepada demonstran, ada pula yang meneriakkan yel-yel penyemangat dan yang paling sederhana adalah komentar-komentar yang ikut senang aksi penolakan ini terjadi dimana-mana.

Kami menurunkan berita ini sebagai ketegasan sikap kami dalam memerangi kontrol kekuasaan dan modal terhadap media-media mainstream, juga sebagai reaksi marah terhadap aksi teror, penculikan, penangkapan asal-asalan, penggrebekan dan tindakan-tindakan kekerasan polisi dan militer terhadap pemrotes sosial ini.

Kecaman kami arahkan kepada setiap aksi teror yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada demonstran. Kecaman kami berikan kepada sebaran-sebaran daftar pencarian orang yang begitu menggelikan (lebay), penangkapan, penculikan dan penembakan terhadap pejuang-pejuang mimpi dimanapun berada dan siapapun mereka.

Panjang umur amarah!!
Salam sayang kepada kombatan-kombatan didalam penjara
Salam hormat kepada orang-orang yang telah berani melampau apa-apa yang dilakukan sebagian lainnya didalam kantor, kampus, rumah dan televisi.

Leave a Reply